<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=10150882&amp;blogName=Al+Jayuzi&#39;s+Family&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://aljayuzi.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://aljayuzi.blogspot.com/&amp;vt=-4504641216616826092" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

24.5.05

Si Sushi Jembatan Merah

Image hosted by Photobucket.com

Badminton yang seharusnya dua sesi (80 menit) molor hampir 4 sesi. Pasalnya, lapangan kosong. Meski begitu, siang masih teramat panjang. Tiada lain, masak memasak pun menjadi pengisi waktu. Bunda sama Bungsu langsung okay. Tante Jender ada acara farewell party, tapi ngusahain datang meski telat. Sulung, langsung ngeluarin jurus pamungkas. "Ini sih makan pas-pasan. Pas lapar dan gak punya makanan, pas ada yang ngundang". Rencananya hari ini latihan memasak sushi, dadar gulung ala jepang.

Gurunya adalah Bungsu, yang juga gape masak peyek. Entah kenapa untuk urusan masak yang ribet-ribet, Bungsu ini lumayan jago. Semua bahan makanan yang disebut saja susah sudah dibeli. Sebutlah Nori (rumput laut untuk membalut), wasabi (bumbu penyedap), dan ikan salmon asap. Namanya kerongkongan Indonesia, menuntut modifikasi biar sesuai. Kalau umumnya sushi diselipin ikan, sekarang diselipin dadar telor. Jayus.


Image hosted by Photobucket.com

Giliran Sulung jadi tukang gulung. Putar ke kiri, sorong ke kanan, tiba2 Sulung ngakak sendiri. Di tangannya tergenggam bukan sushi. Tapi nasi timbel. Agaknya waktu menggulung, ingatan Sulung melayang ke tukang nasi timbel langganannya di Jembatan Merah, Bogor. setelah berdebat dengan bungsu, akhirnya sulung rela, sushi buatannya dikembalikan ke khittah, dipotong-potong.
Meski hasilnya, bentuknya, centang prenang, rasanya bolehlah. Kali lain, bentuknya pasti lebih yahud. Kata tetua, practices make perfect.

3 Comments:

Blogger kéré kêmplu said...

duh pinternya bikin orang lain ceglak-cegluk pengin...

11:46 PM  
Anonymous gembull said...

wew... jadi pingin makan sushi neh!
pinter bang-Get! bikin gembull laper neh... :D

6:37 AM  
Blogger loper said...

hiks ... saya gak kebagian susi ..... :P

11:06 AM  

Post a Comment

<< Home