Kutukan Kaos Kaki Terkutuk
Khatib baru saja memulai khutbah Jumat, ketika seseorang masuk dengan tergopoh. Tampaknya ia baru pertama ini jumatan di mushalla Rumah Sakit ini. Begitu ia mencopot sepatu, aroma tak sedap pun menyebar. Bau jempol, kata anak Jakarte. Kebetulan aku duduk paling ujung kanan, dekat rak sepatu. Tapi aku yakin seisi ruangan mencium aroma itu, sebab mushalla ini hanya kamar berukuran 4x4, tanpa ventilasi sedikitpun.
Tadinya aku berharap ia membuka kaus kaki, dan wuduk. Setidaknya ini akan mengurangi cap jempol yang bikin kekhusu'an mendengar khutbah buyar. Eh, malang tak dapat ditolak, ia langsung duduk dengan tetap memakai kaus kaki terkutuk itu. Apa akal? Begitu jamaah berikutnya nongol di pintu, aku langsung aja cabut ke baris kedua, dan mengambil tempat nomor dua dari kanan belakang. Mundur teratur lebih baik, daripada memaksa hidung bertempur. Lumayan, ada sedikit ruang bernafas, sambil menghirup aroma Dji Sam Soe dari kantong baju.
Khatib sudah masuk tahap mendoa, ketika terdengar bunyi berisik bleep (pager internal). Maklum, peserta jumatan sebagian besar adalah dokter dari Arab dan Pakistan, yang tak boleh meninggalkan tugas. Begitu senjata bleep itu bunyi, langsung aja si dokter pergi untuk menelpon ekstension asal bleeper. Akibatnya formasi barisan depan berubah. Si pemilik kaus kaki terkutuk bergeser lebih mendekat ke aku. Al Fatihah rakaat pertama mengalun, pintu terbuka, dan si dokter yang tadi pergi kembali. Dia mengambil tempat di depan kiri. Akibatnya, si kaus cap jempol bergeser tepat di depanku. Mana mushalla sempit, jadilah setiap sujud aku menahan nafas. Astaghfirullahul Adzim. Jadi ingat waktu naik haji dulu. Aku sebel banget lihat bapak-bapak disebelahku yang buang ingus melulu. Eh, tak lama aku merasa ada ingus di hidung. Begitu aku seka, ternyata darah. Aku mimisan tiba-tiba. Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang dhaif ini.Dikisahkan oleh Babe

1 Comments:
kaos kaki saya juga bau, sampai jempol kaki saya pun menolaknya :)
Post a Comment
<< Home