<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d10150882\x26blogName\x3dAl+Jayuzi\x27s+Family\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://aljayuzi.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://aljayuzi.blogspot.com/\x26vt\x3d-4504641216616826092', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

27.8.05

Pahlawan Pendulang Pound

Bayangkan, kamu sedang makan di sebuah warung hamburger pinggir jalan. Karena berisik menggunakan bahasa Indonesia, lalu salah satu pengunjung, atau penjual burger menyapa: "Indonesia ya. Kenal dengan bapak anu dong", katanya sambil menyebut nama tokoh ternama Indonesia.

Jangan buru2 menuduhnya SKSD a.k.a Sok kenal sok dekat, mengaku-ngaku teman pejabat. Sebab bisa saja, mereka teman sekolah, atau kemungkinan "terburuk", sang pejabat dulu pernah bekerja sebagai pegawai di toko hamburger itu.

Bekerja sambil kuliah, memang lazim dilakukan mahasiswa Indonesia. Tak kecuali, keluarga Al-Jayuzi ini. Kak Yiya, Babe, dan Bungsu (foto), juga Madam Shin, dan Pa Un bekerja di Rumah Sakit Norwich. Tentu saja bukan jadi dokter atau perawat, sebab itu bukan keahlian kami. Babe dan Pa Un menjadi cleaner, sedangkan yang lain, jadi caterer. Mak mengabdi di Pemda Norwich, sebagai penjaga perpustakaan. Sulung dan Pak Katua jadi buruh angkut di toko elektronika. Cuma Bunda dan Tante Jenny yang tidak bekerja. Bunda sudah diwakili oleh Babe yang kerja 40 jam/minggu, sedang si Tante terkena larangan pemberi beasiswa, Ford Foundation.

Jatah bekerja untuk student, 20 jam/ minggu. Biasanya mereka bekerja sore hari, atau ujung minggu. Babe bisa 40 jam, karena ia bukan student. Gajinya lumayan. Casual work macam ini dibayar di garis batas UMR, 5.5 Pound/jam (kl 80 ribu perak).

Untuk mendapatkan pekerjaan ini relatif mudah. Syaratnya, ya berani malu dan kuat mental. Sarjana, gitu lho, mosok kerja kasar. Rumah sakit menjadi penampung terbesar pekerja student ini. Selain itu bisa dicari di koran lokal EDP setiap kamis, atau datang ke job center.

Jadi, kalau tujuannya cuma cari uang buat liburan dan menambah jatah oleh2, silakan mendulang Pound.

22.8.05

The Soe Must Go On

Bau sate merebak jauh hingga Norfolk Terrace. Padahal, lokasi pembakaran nun jauh di lapangan Constable Terrace yang berjarak seratusan meter. Untung, akomodasi kampus lagi sepi karena liburan musim panas. Bisa-bisa rombongan mahasiswa berdatangan. Syukur kalau cuma protes, gimana kalau minta bagian.


Klik disini untuk pembesaran foto

Siang yang ditemani rintik hujan itu, PPI Norwich mengadakan farewell party Tak terasa, masa setahun sudah hampir usai. Sebetulnya kepulangan baru mulai September. Tapi karena Pa Un dan keluarga, akan berlibur ke Eropa sebelum pulang, maka acara diadakan di Sabtu yang kurang cerah itu.

Dibalik kegembiraan suasana pesta berhidangkan sate kambing, kalkun, ayam bakar, ikan gulai kuning, rendang, onde-onde, bakwan dsb, terbersit keharuan. Berpisah dengan keluarga baru.
Keluarga baru yang terbentuk oleh ikatan senasib sepenanggungan di rantau orang. Antara sesama mahasiswa, juga dengan warga Indonesia yang lain. Bahkan dengan warga non-Indonesia, yang kini menjadi "warga Indonesia" karena ikatan perkawinan. Ada Tony Tilford-Dyah, ada Hugh Crawford-Vera, ada Edo Situmorang-Kathrine, juga ada Sam-Carolina. Lalu, ada Pak John-Bu Ruth, "keluarga" Indonesia karena ikatan emosional. Pak John adalah dosen yang mengajar di IPB Bogor sana, sehingga logatnya pun sangat Indonesia.


Kilik2 dimari untuk foto lain


Depan (ki-ka): Chila Aroean, Bunda, Madam, Bungsu with Tia Situmorang, Tante Jenny, Michael Aroean, Pak Katua
Tengah: Babe, Hugh, Pak John, Tony, Kak Yiya, Oom Lukman, Mbak Ina van Cambridge
Belakang: Rasyidi, Mrs Situmorang, Made Lukman, Mr Edo Situmorang, Dyah Tony, Mak, Vera Hugh, Yulia, Caroline, Sam, Linda & Insky from Soe

Kami bersyukur, karena mahasiswa Indonesia di Norwich hanya segelintir. Tahun 2004-2005 hanya 11 orang saja. Sehingga ikatan kekerabatan itu lekat seolah tak berjarak.
Setahun nyaris berlalu. Yang lama segera kembali, yang baru mulai tiba. Keluarga baru akan segera terbetuk. Semoga yang lama tak terlupakan. Dan, semoga ini bukan sesaat.

18.8.05

Menggoyang London


Tak ada yang istimewa di stasiun bus Victoria, London pagi itu. Padahal, hari itu 17 Agustus, hari keramat bagi bangsa Indonesia. Tapi ini negeri orang, bukan Indonesia mana ada lambaian merah putih. Beruntung, rekan yang kami tunggu, Siska dari Brighton muncul dengan baju kebangsaan. Kaos merah berpadu celana putih. "Wah penggerek bendera telat nih," canda kami menyambutnya.

Babe, Bunda, dan Tante Jenny menjadi delegasi Norwich ke perayaan hari merdeka, yang diadakan kedutaan. Berempat kami memilih tube menuju Wisma Nusantara, di East Finchley, London Utara. Pilihan yang berat, sebab kami masih trauma naik tube akibat ledakan bulan lalu. Tapi waktu 2 jam yang terbuang bila memilih bus, masa yang cukup panjang untuk kehilangan kenikmatan, membuat kami akhirnya menyusup ke terowongan Victoria.

Setelah insiden salah jalan, akhirnya kami tiba dengan membuntuti rombongan berbatik, yang tak sadar kami ekori. Halaman belakang sudah dipenuhi massa. Mulai dari mahasiswa hingga TKI (maaf, kategorisasi ini berdasar pemandangan sekilas, bukan hasil wawancara). Ada antrian panjang menuju tenda makanan gratis, yang berisi urap, ayam kecap, dan tempe bacem. Ada sih tenda sepi, tapi itu bayar. Itu pempek, bakso, sate, dan cemilan. "Kita makan besar aja," ajak Babe. Penghalusan dari, kita yang gratis aja.

Sapa kiri kanan pun mulai. Bunda ketemu beberapa teman sesama Cheveningers dari lain kota. Pun Tante Jenny, "penumpang" Ford Foundation. Wisma Nusantara pun berubah menjadi oase ditengah gersangnya suasana silaturrahmi bertetangga bule. Makanan lezat, wangi kretek, tawa cekakan. Dan itu dia...... Di panggung ada Denada "Goyang Dombret" Tambunan. Bunda dan Tante Jenny yang tak tahan lagi, segera menyeruak ke depan, merelakan diri joget berdesakan. Tinggal boleh di Inggris, bacaan boleh English Textbook, tapi soal selera tetap dangdut.

Hampir petang, kami tinggalkan arena dengan rasa bungah. Sambil berteriak dalam hati: Merdeka..!!! Setidaknya, merdeka sejenak dari belenggu disertasi.

23.7.05

Rinso Mencuci Sendiri

Hari libur begini, harinya jalan-jalan. Tak heran, di jalan-jalan dalam kampus banyak orang nyeret-nyeret koper gede. Tapi eits, tak semuanya penyeret koper itu mau pergi jalan2. Apalagi, pulang kampung, atau pindah. Ini pemandangan rutin akhir pekan. Mereka mau pergi ke laundry untuk mencuci.

Kamar2 di akomodasi kampus, tak menyediakan ruang mencuci. Apalagi tempat menjemur pakaian. Makanya, di dalam kompleks kampus, ada dua pe-laundri-an (bahasanya jayus amat yak..!!). Selain mesin cuci besar2, ada juga mesin pengering yang juga besar2. Pada musim dingin, saat penggunaan heater kontinyu, mengeringkan pakaian bisa juga dengan menggantungkan di plat pemanas itu.

Biaya cuci relatif murah. Satu mesin cuci 30 menit, 80 Pence, dan pengering 15 menit 50 pence. Jadi, bawa koin yang banyak. Selain bawa koin, jangan lupa bawa sabun dan pengharum. Memang, kalau lagi mujur, ada mesin yang sabunnya keluar sendiri. Salah satu keluarga Jayus pernah mengalami ini. (oo..siapa dia...). Mungkin, sebelum ia datang, ada sisa deterjen oleh pengguna sebelumnya.
Sehingga ia ber-asumsi deterjen sudah tersedia di mesin. Jadi ingat iklan Rinso, "mencuci sendiri". Kalau yang ini, "deterjen mengucur sendiri".

15.7.05

Kartu Seribu Mudah

Apa-apa mahal. Gerutuan itu wajar menimpa anak kost. Apalagi yang sekolah di Inggris, negeri termahal di dunia (paling tidak dilihat dari nilai tukar Pound terhadap rupiah). Tapi bukan anak kost dong, kalo tak pintar bersiasat. Agaknya, negeri ini pun maklum dengan keserbamahalan ini. Makanya ia menyediakan banyak peluang, bagi yang jitu bersiasat. Salah satunya: kartu.

Maka lihatlah dompet mahasiswa Indonesia. Pelbagai macam kartu menyesak disana. Mulai dari kartu mahasiswa, kartu kredit, kartu telepon, kartu bus, kartu "Rail Card", dan eits.. jangan lupa, kartu diskon.

Mari kita telisik satu persatu:

Kartu Mahasiswa:
Kartu ini diperoleh pada hari pertama mendaftar. Bawalah pasfoto sendiri, untuk menghindari gambar jelek di kartu. Sebab petugasnya tidak akan memberi waktu untuk menyeka wajah sekalipun, sebelum dipotret ditempat. Kartu inilah pembuka segala jalan. Masuk librari, sportspark, asrama, juga untuk memperoleh kartu kredit, kartu bus, kartu KA.

Kartu Kredit:
Ini simbol pemborosan. Tapi kudu diminta, sebab banyak gunanya. Apalagi disini, banyak belanja online. Dan 1 pound juga dilayani. Seperti membeli tiket bus funfare Norwich-London yang kalo mujur dapat 1 Pound. Atau membeli barang lelangan di ebay. Juga membeli buku di toko online macam amazon.

Kartu Bus Tahunan:
Ini masuk kategori wajib beli. Cuma 120 Pound per tahun. Artinya, sehari hanya 33 pence. Sementara ongkos bus paling dekat 60 pence. Jangan pikir, kalau tinggal di kampus tidak perlu ini. Sebab bus bukan hanya transport rumah-kampus-rumah. Kampus ke Morison (supermarket lengkap dan murah) saja, 2.8 Pound pergi pulang. Belum lagi kalau mau ke city, atau anjangsana ke rumah teman. Apalagi, kalau ada niat bekerja sambilan diluar kampus.

Kartu Railcard:
Ini kartu optional. Hanya kalau suka bepergian dengan kereta api. Tapi kalau dihitung secara ekonomis, tak ada salahnya beli. Setahun hanya bayar 20 Pound. Setiap beli tiket, diskon 30 persen.

Kartu Telepon:
Ini kartu canggih. Bikin keluarga di Indonesia merasa kita orang kaya, karena menelpon berjam-jam. Ini kalo dibanding dengan biaya menelpon SLI dari Indonesia kesini. Ada banyak varian kartu telepon. Sebutlah saver, Golden Minute, Golden Monkey. Kartu ini bisa dibeli online, 15 Pound untuk kartu senilai 25 Pound. Tapi kalau belinya di China Town, London, cuma 12.5 Pound. Kok bisa lebih murah, tanya aja itung2annya sama Liem Sie Liong ya. Jumlah menit sambungan dengan 25 Pound ini, ke Jakarta 1200 menit, luar Jakarta 300 menit (5 jam).

Kartu Henpon:
Sama dengan di Indonesia, kartu untuk henpon ada 2 macam. Pra bayar (pay as you go), dan pasca bayar (contract). Sistem kontrak ini lebih menguntungkan. Pertama dapat henpon, lalu hitungan per pulsanya lebih murah. Jangan takut boros, karena sistemnya beda dengan pasca bayar Indonesia yang bisa kebablasan. Disini, sewaktu tanda tangan kontrak sudah diatur jumlah menit dan jumlah pulsa yang diperoleh selama sebulan. Misal, pilih 15 Pound/bulan, free minute 200, free pulsa 50. Mengggunakan lebih dari free, ya bayar dong. Jangan buru2, pelajari dulu offer (atas nama persaingan, terkadang ada diskon yang masuk akal). Pelajari pula kelebihan masing-masing provider dari anak yang sudah lebih dulu pakai. Seperti apakah bisa sms dan terima sms dari Indonesia.

Kartu Diskon:
Banyak toko yang menyediakan kartu diskon ini. Pilih saja secara jeli. Kalo gratis, tanpa ikatan, apa salahnya.

Selain karena pertolongan kartu, harga murah juga bisa diperoleh dengan memesan jauh di awal. Ini berlaku bagi transportasi. Kalau mau bepergian ke luar kota, tidak terburu-buru, sebaiknya pesan jauh-jauh hari. Dan inga..inga.. membeli secara return (pulang pergi) tidak berbeda jauh dengan sekali jalan (single). London-Oxford contohnya, single 11 Pound, return hanya 12 Pound.

Maka siap-siaplah membawa dompet yang bayak selipannya. Biar kartu-kartu mudah, murah, meriah itu selalu terbawa dengan mudah.